Nusa Penida Gairahkan Kain Cepuk
23 April 2012 - berita
Nusa Penida, Kompas - Perempuan-perempuan Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, kembali menggairahkan kerajinan tenun ikat cepuk asli daerahnya yang puluhan tahun langka. Tingginya minat pasar dan harga menjadi salah satu pemicu. Namun, mereka terpaksa memakai pewarna kimia karena kesulitan menemukan tumbuhan yang dipakai membuat warna alami.
Ketua Kelompok Winangun Asri Desa Pejukutan, Luh Nusantari, Minggu (22/4), mengatakan, alat tenun bukan mesin (ATBM) yang ada juga terbatas karena sebagian sudah tua. Sementara delapan ATBM bantuan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan beberapa tahun lalu, hanya tiga yang berfungsi setelah diperbaiki beberapa bagiannya.
”Kami berharap bisa memperbaiki lima alat lainnya agar dapat dipakai. Ibu-ibu dan remaja di sini (Nusa Penida) mulai tertarik menenun. Sayang jika tidak terpakai,” kata Luh Nusantari.
Para perempuan banyak yang memilih bekerja di daratan Pulau Bali menjadi karyawan hotel, toko, daripada meneruskan menenun. Hanya sedikit perempuan yang meneruskan tradisi menenun dari ibunya.
Sekitar dua puluh tahun lalu, harga kain ikat cepuk (200 x 80 sentimeter) dihargai sekitar Rp 16.000. Saat ini, harga kain dengan ukuran sama bisa laku sekitar Rp 150.000.
Hanya saja, perajin tidak lagi melalui proses dari awal seperti pemintalan hingga pencelupan. ”Kami tinggal menenun dengan benang yang sudah siap dari pengepulnya. Kami dibayar Rp 500.000 untuk 37 meter kain dan lebar 80 sentimeter. Rata-rata selesai satu bulan,” tuturnya.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Daerah Bali, Ayu Pastika, mengakui perlunya menambah pembinaan termasuk membangkitkan para perajin untuk mau kembali ke pewarna alami. Ia berjanji ikut mencarikan tumbuhan sebagai pewarna agar ditanam di sekitar rumah para perajin.
Nusa Penida terletak di tenggara Pulau Bali dan harus menyeberangi Selat Badung. Perjalanan menuju ke Nusa Penida membutuhkan sekitar dua jam menaiki jukung atau perahu tradisional. (AYS)
(Sumber: cetak.kompas.com. 23 April 2012)
(#77 views)
Ketua Kelompok Winangun Asri Desa Pejukutan, Luh Nusantari, Minggu (22/4), mengatakan, alat tenun bukan mesin (ATBM) yang ada juga terbatas karena sebagian sudah tua. Sementara delapan ATBM bantuan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan beberapa tahun lalu, hanya tiga yang berfungsi setelah diperbaiki beberapa bagiannya.
”Kami berharap bisa memperbaiki lima alat lainnya agar dapat dipakai. Ibu-ibu dan remaja di sini (Nusa Penida) mulai tertarik menenun. Sayang jika tidak terpakai,” kata Luh Nusantari.
Para perempuan banyak yang memilih bekerja di daratan Pulau Bali menjadi karyawan hotel, toko, daripada meneruskan menenun. Hanya sedikit perempuan yang meneruskan tradisi menenun dari ibunya.
Sekitar dua puluh tahun lalu, harga kain ikat cepuk (200 x 80 sentimeter) dihargai sekitar Rp 16.000. Saat ini, harga kain dengan ukuran sama bisa laku sekitar Rp 150.000.
Hanya saja, perajin tidak lagi melalui proses dari awal seperti pemintalan hingga pencelupan. ”Kami tinggal menenun dengan benang yang sudah siap dari pengepulnya. Kami dibayar Rp 500.000 untuk 37 meter kain dan lebar 80 sentimeter. Rata-rata selesai satu bulan,” tuturnya.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Daerah Bali, Ayu Pastika, mengakui perlunya menambah pembinaan termasuk membangkitkan para perajin untuk mau kembali ke pewarna alami. Ia berjanji ikut mencarikan tumbuhan sebagai pewarna agar ditanam di sekitar rumah para perajin.
Nusa Penida terletak di tenggara Pulau Bali dan harus menyeberangi Selat Badung. Perjalanan menuju ke Nusa Penida membutuhkan sekitar dua jam menaiki jukung atau perahu tradisional. (AYS)
(Sumber: cetak.kompas.com. 23 April 2012)
Kirim ke Teman
Cetak halaman ini
Posting komentar
Share on Facebook


