Bogor – Menteri Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan mengaku sangat prihatin melihat kondisi PKL dan pasar tradisional di Indonesia. Padahal, keberadaan mereka sesungguhnya adalah cermin kehidupan dan kekuatan ekonomi kita. Cermin sebuah tata pergaulan sosial dan budaya masyarakat. Cermin sebuah kota, bahkan lebih dari itu sebagai Cermin peradaban suatu bangsa.

“Oleh sebab itu sebagai bangsa, dan warga sebuah kota, mestinya kita merasa malu, setidaknya sedikit risih jika melihat dan menyaksikan kondisi kota yang dipenuhi Pedagang Kaki Lima tetapi tidak tertata. Kita amat sedih jika terdapat pasar tradisional yang kumuh, becek, bau dan jorok. Kita juga amat sedih jika menyaksikan para Pedagang Kaki Lima berdagang dengan tenda seadanya, terlebih jika mereka harus diusir dan dipukuli” papar Menkop saat peluncuran Program Strategis Kementerian Koperasi dan UKM melalui Penataan Sarana Usaha Pedagang Kaki Lima (PKL) dan Revitalisasi Pasar Tradisional oleh Koperasi, di Kola Bogor, Jumat.

Oleh sebab itu, Kementerian Koperasi dan UKM dengan segala keterbatasan yang ada, terus mengembangkan program tersebut. “Alhamdulillah, hingga tahun 2013 telah dibangun sebanyak 254 lokasi PKL dan sebanyak 472 unit pasar tradisional yang dikelola koperasi. Pada tahun 2014 ini juga akan segera dibangun 88 lokasi PKL dan 60 pasar tradisional di seluruh Indonesia” kata dia.

Khusus untuk wilayah Kota Bogor, lanjut Menkop, telah dilakukan dibangun sebanyak 3 lokasi PKL dan dua unit pasar tradisional di Kabupaten Bogor. “Perlu dilandaskan bahwa program penataan sarana usaha PKL dan Revitalisasi Pasar Tradisional melalui Koperasi ini diharapkan menjadi solusi dan memberikan manfaat ganda sekaligus” tukas Menkop.

Pertama, tersedianya infrastruktur sarana prasarana ekonomi di daerah, sebagai wahana berkembangnya ekonomi domestik dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah bersangkutan. Pembangunan ini juga bersinergi dengan upaya pemerintah daerah dalam rangka penataan kota dan penempatan Pedagang Kaki Lima.

Kedua, kehadiran para pedagang di pasar tradisional dan kawasan PKL, telah memberikan citra khusus bagi dunia perdagangan, karena adanya kepastian tempat usaha, dan penampungan lapangan kerja yang relatif besar. Sebagaimana diketahu. bahwa tidak kurang dari 5,5 juta tenaga kerja di sektor perdagangan diserap oleh kegiatan pedagang.

Ketiga, meningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pasar tradisional yang dikelola oleh Koperasi, sehingga tumbuh inisiatif, (anggung jawab dan kemandirian masyarakat dalam kegiatan ekonomi. Keberadaan koperasi diharapkan akan memberikan manfaat dan membawa semangat untuk kesejahteraan anggota.

Keempat, Tumbuh dan berkembangnya kekuatan pelaku ekonomi masyarakat dalam wadah Koperasi, akan mendorong kesadaran kolektil untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, berdasarkan asas kekeluargaan sesuai semangat demokrasi ekonomi, UUD 1945. “Selanjutnya, Kementerian Koperasi dan UKM akan melanjutkan program Revitalisasi Pasar Tradisional dan Penataan Sarana Usaha PKL ini, khususnya dalam rangka mengemban amanat untuk melakukan proses percepatan dalam pembangunan pasar tradisional yang lebih baik dan dikelola secara profesional, sehingga tercipta pasar tradisional yang semakin menarik, bersih, tertata barang-barangnya, aman, nyaman, dan terjaga dari kebakaran” jelas Menkop lagi.

Sumber: Harian Ekonomi Neraca

Untuk itu, Menkop mengundang seluruh pemangku kepentingan, khususnya kepada Gubernur, Bupati dan Walikota, melalui Dinas-Dinas Koperasi dan UKM di daerah diseluruh Indonesia, untuk mengajukan berbagai usulan yang sesuai dengan kondisi daerah. “Lebih dari itu, penting pula disampaikan, agar menjadikan program dari Kementerian Koperasi dan UKM, termasuk program penataan PKJL dan Revitalisasi Pasar Tradisional ini, sebagai stimulan yang lebih lanjut dapat dikembangkan, dan diperbanyak oleh pemerintah daerah” tandas Menkop.* rid

Sumber : http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1392:menkop-benahi-pkl-dan-pasar-tradisional-di-kota-bogor&catid=50:bind-berita&Itemid=97