Didorong Batik Ramah Lingkungan
22 Februari 2012 - berita
Solo, Kompas - Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman atau Ekonid membina usaha kecil dan menengah di beberapa daerah untuk memproduksi batik yang ramah lingkungan, yakni yang menggunakan pewarna alam. Kini ada 320 UKM di Yogyakarta, Klaten, Cirebon, Pekalongan, Tarakan, dan Madura, yang mendapat pendampingan dari Ekonid.
Selama empat tahun, diharapkan ada 500 UKM yang didampingi dan mampu mempraktikkan produksi batik ramah lingkungan. Selama pendampingan, pelaku UKM diajarkan membuat dan mengaplikasikan pewarna alam untuk pembuatan batik.
”Selain itu, pelaku UKM juga akan didampingi soal pemasaran sehingga bisa mengedukasi calon konsumen agar nantinya memilih batik pewarna alam ramah lingkungan,” kata Project Officer Clean Batik Initiative (CBI) Yuanita Surya Dini, Selasa (21/2).
Ia menjelaskan, program yang dananya disokong SWITCH-Asia Komisi Eropa ini juga bekerja sama dengan Sentra Produksi Batik Bersih Kementerian Lingkungan Hidup. Program tersebut kini masuk tahun kedua.
”Tahun pertama, kami mendampingi soal efisiensi energi. Misalnya, penggunaan kompor listrik menggantikan kompor minyak tanah, pemakaian blower sehingga pemakaian kayu bakar tinggal separuh, daur ulang lilin, dan penerangan alami pada siang hari menggunakan botol air minum ditambah pemutih,” kata Yuanita.
Ekonomi kreatif
Business Development Officer Ekonid Karina Saputri mengatakan, batik yang diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi kreatif. Ia mengutip data Kementerian Perdagangan tahun 2009, di Indonesia terdapat 48.287 UKM batik yang mempekerjakan 792.285 orang.
Akan tetapi, di sisi lain, aspek kesehatan dan lingkungan perlu diperhatikan. ”Dengan menggunakan pewarna alam, lebih aman bagi pembatik juga bagi lingkungan sekitar,” ujar Karina.
Menggunakan pewarna alam sebenarnya kembali pada masa awal sejarah perkembangan batik di Indonesia. Pewarna sintetis di Jawa baru dikenal tahun 1898, yakni pewarna anilin dan naptol pada tahun 1926.
Dalam Pameran Batik Indone- sia ”Warisan yang Hidup” di Pendapi Gedhe, Balaikota Solo, 19-29 Februari, dipamerkan beberapa contoh tanaman yang dapat dijadikan pewarna alam, seperti tom (Indigo tinctoria), kulit buah jelawe (Terminalia bellirica), daun mangga (Mangifera Indica L), kulit kayu mahoni (Swietenia mahagoni), kayu jambal atau soga (Peltophorum pterocarpum), kesumba (Bixa orellana), kayu secang (Caesalpinia sappa), kulit buah manggis (Garcinia mangostana), daun marenggo (Horomolaena odorata), dan kayu tegeran. (eki)
(Sumber : cetak.kompas.com. 22 Februari 2012)
(#92 views)
Selama empat tahun, diharapkan ada 500 UKM yang didampingi dan mampu mempraktikkan produksi batik ramah lingkungan. Selama pendampingan, pelaku UKM diajarkan membuat dan mengaplikasikan pewarna alam untuk pembuatan batik.
”Selain itu, pelaku UKM juga akan didampingi soal pemasaran sehingga bisa mengedukasi calon konsumen agar nantinya memilih batik pewarna alam ramah lingkungan,” kata Project Officer Clean Batik Initiative (CBI) Yuanita Surya Dini, Selasa (21/2).
Ia menjelaskan, program yang dananya disokong SWITCH-Asia Komisi Eropa ini juga bekerja sama dengan Sentra Produksi Batik Bersih Kementerian Lingkungan Hidup. Program tersebut kini masuk tahun kedua.
”Tahun pertama, kami mendampingi soal efisiensi energi. Misalnya, penggunaan kompor listrik menggantikan kompor minyak tanah, pemakaian blower sehingga pemakaian kayu bakar tinggal separuh, daur ulang lilin, dan penerangan alami pada siang hari menggunakan botol air minum ditambah pemutih,” kata Yuanita.
Ekonomi kreatif
Business Development Officer Ekonid Karina Saputri mengatakan, batik yang diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi kreatif. Ia mengutip data Kementerian Perdagangan tahun 2009, di Indonesia terdapat 48.287 UKM batik yang mempekerjakan 792.285 orang.
Akan tetapi, di sisi lain, aspek kesehatan dan lingkungan perlu diperhatikan. ”Dengan menggunakan pewarna alam, lebih aman bagi pembatik juga bagi lingkungan sekitar,” ujar Karina.
Menggunakan pewarna alam sebenarnya kembali pada masa awal sejarah perkembangan batik di Indonesia. Pewarna sintetis di Jawa baru dikenal tahun 1898, yakni pewarna anilin dan naptol pada tahun 1926.
Dalam Pameran Batik Indone- sia ”Warisan yang Hidup” di Pendapi Gedhe, Balaikota Solo, 19-29 Februari, dipamerkan beberapa contoh tanaman yang dapat dijadikan pewarna alam, seperti tom (Indigo tinctoria), kulit buah jelawe (Terminalia bellirica), daun mangga (Mangifera Indica L), kulit kayu mahoni (Swietenia mahagoni), kayu jambal atau soga (Peltophorum pterocarpum), kesumba (Bixa orellana), kayu secang (Caesalpinia sappa), kulit buah manggis (Garcinia mangostana), daun marenggo (Horomolaena odorata), dan kayu tegeran. (eki)
(Sumber : cetak.kompas.com. 22 Februari 2012)
Kirim ke Teman
Cetak halaman ini
Posting komentar
Share on Facebook


